28 February 2010
Rahasia Penutupku
Ada satu bagian yang sangat meng-inspirasi saya dalam novel Maryamah Karpov karya Andrea Hirata. Yaitu saat mas Andre mengungkapkan tentang sebuah rahasia. Seperti apa rahasianya? Dia menulis, “Kuberi satu rahasia padamu kawan, buah paling manis dari bermimpi adalah kejadian-kejadian menakjubkan dalam perjalanan menggapainya.”
Sebuah kalimat yang begitu memotivasi, sebuah gambaran bahwa hal terbaik yang dapat kita raih dalam setiap pertarungan dan perjuangan hidup ini justru bukanlah trophy kemenangan, bukanlah penghargaan saat kita berhasil memenangkan tujuan, melainkan setiap pelajaran dari proses panjang yang kita alami saat berusaha meraih tujuan tersebut.
Ya, saya merasakan dan mendapatkan pengalaman yang sama dalam keikutsertaan saya di Event Djarum Black Blog Competition Vol. 2 ini. Bagi saya, seandainyapun saya nanti menang, maka hadiah yang saya peroleh tak akan lebih berarti dari pengalaman yang saya dapatkan dari segala proses dalam menggali ide, begadang, kehujanan, dan terkadang melamun untuk mendapatakan bahan tulisan.
Yang saya dapatkan dari sini berupa pengembangan diri dan kemampuan yang jauh lebih saya syukuri dari hal lain yang bisa saya bayangkan.
Namun tak pentingkah sebuah trophy kemenangan? Siapa sih peserta lomba apapun yang tidak ingin menang? Dengan segala usaha terbaik yang telah dilalukan, tentu setiap orang ingin memenangkan lomba yang mereka ikuti.
Ya, sebuah trophy lomba berarti sebuah tanda berakhirnya satu babak pertarungan kita, dan tanda untuk terus bersiap memulai sebuah pertarungan baru.
Setelah menghisap energi yang cukup besar dalam beberapa bulan pengerjaan tulisan-tulisan di blog ini, akhirnya judul-judul ini dapat tersaji sepenuhnya:
1. Indonesia Terhindar Dari "Hujan Meteor."
2. Pahlawan (Tidak) Pernah Ditelan Jaman.
3. Masihkah Kita Bangga?
4. Don't Judge A Book By It's Cover.
5. Kembali Ke Laptop.
6. Wajah Hukum Negeri Kita.
7. Sisi Lain Kehidupan Mereka Yang "Hitam."
8. Makmurnya Negeri Ini.
9. Terkadang Saya Iseng Bertanya.
10. IT Ku Yang Jahat.
11. Romantisme Melemahkan?
12. Aku Menyayangi Mata Ini.
13. Cinta Saya Untuk...
14. Menjadi Orang Berkualitas Itu Mudah.
15. Setiap Kita Adalah Spesial.
16. Saur "Kartini" Manurung.
17. The Real Leader.
18. Profesi Saya Ahli Rokok Djarum ^^
19. Loyalitas Vs Plin-Plan.
20. Fenomena Pengamen.
dan 21. Rahasia Penutupku. (sebagai pamungkas)
Terlebih dari semua ini, saya yakin event ini, dan event-event lain Djarum (Blackinnovationawards, Autoblacthrough, dll…) juga pasti menyimpan rahasianya sendiri-sendiri. Rahasia yang menanti untuk terus kita gali maknanya…
Sampai jumpa di event selanjutnya :)
Baca Selengkapnya...
Sebuah kalimat yang begitu memotivasi, sebuah gambaran bahwa hal terbaik yang dapat kita raih dalam setiap pertarungan dan perjuangan hidup ini justru bukanlah trophy kemenangan, bukanlah penghargaan saat kita berhasil memenangkan tujuan, melainkan setiap pelajaran dari proses panjang yang kita alami saat berusaha meraih tujuan tersebut.
Ya, saya merasakan dan mendapatkan pengalaman yang sama dalam keikutsertaan saya di Event Djarum Black Blog Competition Vol. 2 ini. Bagi saya, seandainyapun saya nanti menang, maka hadiah yang saya peroleh tak akan lebih berarti dari pengalaman yang saya dapatkan dari segala proses dalam menggali ide, begadang, kehujanan, dan terkadang melamun untuk mendapatakan bahan tulisan.
Yang saya dapatkan dari sini berupa pengembangan diri dan kemampuan yang jauh lebih saya syukuri dari hal lain yang bisa saya bayangkan.
Namun tak pentingkah sebuah trophy kemenangan? Siapa sih peserta lomba apapun yang tidak ingin menang? Dengan segala usaha terbaik yang telah dilalukan, tentu setiap orang ingin memenangkan lomba yang mereka ikuti.
Ya, sebuah trophy lomba berarti sebuah tanda berakhirnya satu babak pertarungan kita, dan tanda untuk terus bersiap memulai sebuah pertarungan baru.
Setelah menghisap energi yang cukup besar dalam beberapa bulan pengerjaan tulisan-tulisan di blog ini, akhirnya judul-judul ini dapat tersaji sepenuhnya:
1. Indonesia Terhindar Dari "Hujan Meteor."
2. Pahlawan (Tidak) Pernah Ditelan Jaman.
3. Masihkah Kita Bangga?
4. Don't Judge A Book By It's Cover.
5. Kembali Ke Laptop.
6. Wajah Hukum Negeri Kita.
7. Sisi Lain Kehidupan Mereka Yang "Hitam."
8. Makmurnya Negeri Ini.
9. Terkadang Saya Iseng Bertanya.
10. IT Ku Yang Jahat.
11. Romantisme Melemahkan?
12. Aku Menyayangi Mata Ini.
13. Cinta Saya Untuk...
14. Menjadi Orang Berkualitas Itu Mudah.
15. Setiap Kita Adalah Spesial.
16. Saur "Kartini" Manurung.
17. The Real Leader.
18. Profesi Saya Ahli Rokok Djarum ^^
19. Loyalitas Vs Plin-Plan.
20. Fenomena Pengamen.
dan 21. Rahasia Penutupku. (sebagai pamungkas)
Terlebih dari semua ini, saya yakin event ini, dan event-event lain Djarum (Blackinnovationawards, Autoblacthrough, dll…) juga pasti menyimpan rahasianya sendiri-sendiri. Rahasia yang menanti untuk terus kita gali maknanya…
Sampai jumpa di event selanjutnya :)
Baca Selengkapnya...
Fenomena Pengamen
Sangat jarang saya merasa geram kepada orang yang berprofesi sebagai pengamen, seingat saya hanya satu dua kali. Kegeraman saya tersebut muncul setelah untuk kesekian kalinya beberapa teman mengeluh seperti ini : “Pengamen sekarang pada nggak sopan. Pakaianya ngeri, serba hitam, potongan rambutnya nggak jelas, dan mereka udah pada berani gangguin penumpang yang tidur!”.
Kalau saya geram, justru karena sebenarnya saya menaruh kepedulian pada mereka (para pengamen). Sebelumnya memang saya bersimpati pada mereka. Bagaimanapun mereka juga merupakan bagian dari masayrakat yang berhak mencari rejeki. Dalam segala pro dan kontra tentang keberadaannya, bisa dibilang saya pro terhadap mereka. Namun saya mulai berpikir lagi saat ini, apakah masih pantas mereka kita beri tempat untuk berkreasi?
Dulu yang saya tahu, pengamen-pengamen penuh dengan kesopanan (meskipun tetap ada satu dua yang nakal), mereka benar-benar memunculkan dan menonjolkan bahwa mereka memang musisi meskipun berlabel jalanan.
Namun melihat deskripsi dari teman saya tadi (yang untuk kesekian kalinya), saya pikir kini para pengamen itu lebih cocok mendapat label Black Comunnity atau komunitas hitam dalam arti yang sesungguhnya, sebab mereka sekarang memang menjadi catatan kelam kehidupan jalanan. Mereka kini hanya pemuda-pemuda yang telah menyerah dan lari dari tanggung jawabnya sebagai generasi muda.
Apakah hal ini karena faktor pendidikan mereka? Saya rasa tidak juga, tak perlu tingkat pendidikan yang tinggi untuk tahu bahwa mereka tak boleh menghabiskan berpak-pak Djarum Balck Slimz sementara kondisi mereka sedang sulit. Ya, hanya kemauan yang diperlukan untuk mengerti akan hal itu.
Namun dalam hal ini, tentu sarkasme saya diatas merupakan asumsi pars pro toto… Karena faktanya memang tak semua pengamen seperti itu, masih selalu ada orang-orang baik diantara kelamnya catatan pengamen masa kini. Dan saya percaya, masih cukup gampang untuk menemukan pengamen-pengamen yang beretika.
Baca Selengkapnya...
Kalau saya geram, justru karena sebenarnya saya menaruh kepedulian pada mereka (para pengamen). Sebelumnya memang saya bersimpati pada mereka. Bagaimanapun mereka juga merupakan bagian dari masayrakat yang berhak mencari rejeki. Dalam segala pro dan kontra tentang keberadaannya, bisa dibilang saya pro terhadap mereka. Namun saya mulai berpikir lagi saat ini, apakah masih pantas mereka kita beri tempat untuk berkreasi?
Dulu yang saya tahu, pengamen-pengamen penuh dengan kesopanan (meskipun tetap ada satu dua yang nakal), mereka benar-benar memunculkan dan menonjolkan bahwa mereka memang musisi meskipun berlabel jalanan.
Namun melihat deskripsi dari teman saya tadi (yang untuk kesekian kalinya), saya pikir kini para pengamen itu lebih cocok mendapat label Black Comunnity atau komunitas hitam dalam arti yang sesungguhnya, sebab mereka sekarang memang menjadi catatan kelam kehidupan jalanan. Mereka kini hanya pemuda-pemuda yang telah menyerah dan lari dari tanggung jawabnya sebagai generasi muda.
Apakah hal ini karena faktor pendidikan mereka? Saya rasa tidak juga, tak perlu tingkat pendidikan yang tinggi untuk tahu bahwa mereka tak boleh menghabiskan berpak-pak Djarum Balck Slimz sementara kondisi mereka sedang sulit. Ya, hanya kemauan yang diperlukan untuk mengerti akan hal itu.
Namun dalam hal ini, tentu sarkasme saya diatas merupakan asumsi pars pro toto… Karena faktanya memang tak semua pengamen seperti itu, masih selalu ada orang-orang baik diantara kelamnya catatan pengamen masa kini. Dan saya percaya, masih cukup gampang untuk menemukan pengamen-pengamen yang beretika.
Baca Selengkapnya...
Loyalitas Vs Plin-Plan
Loyalitas selalu berlawanan dengan “Plin Plan”, tidak berpendirian. Namun kalau 2 orang penganut “loyalitas” dan penganut “plin plan” dipertemukan, sepertinya keduanya akan memberikan jawaban yang sama-sama kuat tentang sikapnya itu.
Saya memiliki seorang teman yang menganut paham “loyalitas”, dia seorang senior saya sewaktu di SMP dulu. Bagi dia, menjadi loyal atau setia itu adalah suatu hal yang sangat penting dan baik. Dia, menyebut loyalitas disini sebagai, “komitmen”. Dan yang saya tahu, baginya, jika kemarin dia menggunakan HP Siemens A70, maka besok tetap HP itu yg ada di sakunya, besoknya lagi pun tetap HP itu yang akan tetap berdering. Meskipun begitu, dia mengaku bukanlah orang yg kolot, baginya hal-hal lama tetaplah sesuatu yang pantas dipertahankan karena nilai-nilai “perjuangan” yang tersimpan di dalamnya. Lagipula, menurutnya, komitmen seperti itu mengajari kita untuk hidup sederhana namun tetap berjuang untuk hal lain, hal baru yang belum kita miliki.
Lain lagi teman saya yang lain semasa SMA, bagi dia “plin plan” itu jauh lebih baik daripada bersikap loyal, menurutnya terlalu banyak pilihan dalam hidup ini yang membuat kita harus menikmati banyak variasi dalam hidup. Baginya, hidup itu hari ini merokok Djarum Black slimz esok merokok Djarum Black Menthol dan esoknya lagi mungkin rokok-rokok dari pabrik antah barantah.
Memang dalam hidup kita tidak dapat men-generalisir bahwa sebuah hukum dapat berlaku untuk segala situasi. Dalam hal ini antara loyalitas dan plin plan memang kadang sama-sama diperlukan. Hanya saja untuk hal apa, dan kapan kita harus menerapkan sikap lah yang terpenting.
Untuk urusan pasangan hidup misalnya, saya rasa semua orang akan setuju untuk menganjurkan bersikan “loyal”, sementara untuk urusan lain seperti produk-produk IT, saya rasa lebih baik kalau kita bersikap “plin plan”, karena kalau kita loyal, hmm… bisa-bisa kena tipu dan ketinggalan berita deh^^
Well, finally seperti kata pepatah. Pandai menghitung itu tidaklah lebih penting dari pada mengetahui apa yang harus kita hitung. So disini, bukan kita bersikap loyal atau plin plan yang penting, tapi terhadap apa kita harus bersikap seperti itu.
Baca Selengkapnya...
Saya memiliki seorang teman yang menganut paham “loyalitas”, dia seorang senior saya sewaktu di SMP dulu. Bagi dia, menjadi loyal atau setia itu adalah suatu hal yang sangat penting dan baik. Dia, menyebut loyalitas disini sebagai, “komitmen”. Dan yang saya tahu, baginya, jika kemarin dia menggunakan HP Siemens A70, maka besok tetap HP itu yg ada di sakunya, besoknya lagi pun tetap HP itu yang akan tetap berdering. Meskipun begitu, dia mengaku bukanlah orang yg kolot, baginya hal-hal lama tetaplah sesuatu yang pantas dipertahankan karena nilai-nilai “perjuangan” yang tersimpan di dalamnya. Lagipula, menurutnya, komitmen seperti itu mengajari kita untuk hidup sederhana namun tetap berjuang untuk hal lain, hal baru yang belum kita miliki.
Lain lagi teman saya yang lain semasa SMA, bagi dia “plin plan” itu jauh lebih baik daripada bersikap loyal, menurutnya terlalu banyak pilihan dalam hidup ini yang membuat kita harus menikmati banyak variasi dalam hidup. Baginya, hidup itu hari ini merokok Djarum Black slimz esok merokok Djarum Black Menthol dan esoknya lagi mungkin rokok-rokok dari pabrik antah barantah.
Memang dalam hidup kita tidak dapat men-generalisir bahwa sebuah hukum dapat berlaku untuk segala situasi. Dalam hal ini antara loyalitas dan plin plan memang kadang sama-sama diperlukan. Hanya saja untuk hal apa, dan kapan kita harus menerapkan sikap lah yang terpenting.
Untuk urusan pasangan hidup misalnya, saya rasa semua orang akan setuju untuk menganjurkan bersikan “loyal”, sementara untuk urusan lain seperti produk-produk IT, saya rasa lebih baik kalau kita bersikap “plin plan”, karena kalau kita loyal, hmm… bisa-bisa kena tipu dan ketinggalan berita deh^^
Well, finally seperti kata pepatah. Pandai menghitung itu tidaklah lebih penting dari pada mengetahui apa yang harus kita hitung. So disini, bukan kita bersikap loyal atau plin plan yang penting, tapi terhadap apa kita harus bersikap seperti itu.
Baca Selengkapnya...
Profesi Saya Ahli Rokok Djarum ^^
Hmm.. memangnya ada? hehe… Entahlah.. Apakah mungkin Djarum membuka sekolah untuk program profesi spesialis peneliti atau pengembang produk-produknya, supaya nanti memunculkan varian yang jauh lebih mantap dari Djarum Black Slimz dan Djarum Black Menthol (bukan berarti keduanya sekarang nggak mantap loh ya.. ^^) Memang terdengar cukup aneh, tapi bukan hal yang mustahil kan?
Hal itu juga selaras dengan apa yang disampaikan teman saya, seorang mahasiswa farmasi yang juga berencana mengambil program profesinya supaya tak sia-sia S1-nya.
Menurut saya pun program profesi juga sangatlah penting, mengingat masih banyak masyrakat kita yang tak mampu menjangkau jenjang S1, bahkan SMA. Saya rasa disinilah perlunya program profesi siap kerja yang mampu memenuhi kebutuhan ketrampilan calon tenaga kerja yang nantinya akan mereka butuhkan sesuai koridornya masing-masing.
Jika kemudian muncul kekhawatiran akan gencarnya program profesi yang tanpa melalui jenjang S1 terlebih dahulu yang akan menggerus lapangan kerja para sarjana S1, saya rasa kekawatiran ini sangatlah tidak beralasan. Sebab “jalur” karir antara mereka para lulusan program profesi(biasanya formal D1) toh berbeda dengan mereka yang lulusan S1.
Lagipula kenapa harus takut jika memang kita merasa telah benar-benar mampu? Bagi saya, program seperti ini sangatlah membantu untuk perkembangan Negara kita ke depanya. Bayangkan efeknya jika program-program seperti ini mampu mendongkrak mengentaskan angka pengangguran di Indonesia, bukan tak mungkin kemakmuran, kemandirian, dan status sebagai Negara maju akan kita capai lebih awal (meskipun sepertinya tetap akan lama^^hehe)
Kalau soal ketakuan-ketakutan sebagian kalangan tadi, saya rasa itu bukanlah suatu halangan untuk mendukung program-program seperti itu. Bukankah kita tak boleh egois dalam mengemban sebuah visi bersama untuk mewujudkan Indonesia yang makmur?
So, kapan nih pihak Djarum ngadain kontes talent untuk ikut jadi ahli-ahli rokoknya??hehe
Baca Selengkapnya...
Hal itu juga selaras dengan apa yang disampaikan teman saya, seorang mahasiswa farmasi yang juga berencana mengambil program profesinya supaya tak sia-sia S1-nya.
Menurut saya pun program profesi juga sangatlah penting, mengingat masih banyak masyrakat kita yang tak mampu menjangkau jenjang S1, bahkan SMA. Saya rasa disinilah perlunya program profesi siap kerja yang mampu memenuhi kebutuhan ketrampilan calon tenaga kerja yang nantinya akan mereka butuhkan sesuai koridornya masing-masing.
Jika kemudian muncul kekhawatiran akan gencarnya program profesi yang tanpa melalui jenjang S1 terlebih dahulu yang akan menggerus lapangan kerja para sarjana S1, saya rasa kekawatiran ini sangatlah tidak beralasan. Sebab “jalur” karir antara mereka para lulusan program profesi(biasanya formal D1) toh berbeda dengan mereka yang lulusan S1.
Lagipula kenapa harus takut jika memang kita merasa telah benar-benar mampu? Bagi saya, program seperti ini sangatlah membantu untuk perkembangan Negara kita ke depanya. Bayangkan efeknya jika program-program seperti ini mampu mendongkrak mengentaskan angka pengangguran di Indonesia, bukan tak mungkin kemakmuran, kemandirian, dan status sebagai Negara maju akan kita capai lebih awal (meskipun sepertinya tetap akan lama^^hehe)
Kalau soal ketakuan-ketakutan sebagian kalangan tadi, saya rasa itu bukanlah suatu halangan untuk mendukung program-program seperti itu. Bukankah kita tak boleh egois dalam mengemban sebuah visi bersama untuk mewujudkan Indonesia yang makmur?
So, kapan nih pihak Djarum ngadain kontes talent untuk ikut jadi ahli-ahli rokoknya??hehe
Baca Selengkapnya...
The Real Leader
Menjelang hari-hari terakhir deadline event Djarum Black Blog Competition Vol 2 ini, saya jadi berpikir tentang sosok kuat di balik sukses terselenggaranya event tersebut. Dan lebih jauh lagi saya juga membayangkan ada tangan kuat dan pikiran tajam di balik semua rangkaian event mulai dari BlackInnovationAwards hingga gelaran Djarum Black Motodify.
Sosok pemimpin yang telah membangkitkan semangat hingga brand Djarum berkibar tinggi, sosok pemimpin yang menurut saya telah mampu melawan semua kontroversi tentang rokok. Ya, seburuk apapun citra rokok di hadapan banyak orang, sosok pemimpin inilah yang telah menggerakkan Djarum untuk berbuat jauh lebih besar daripada ratusan LSM dan organisasi di luar sana yang berlabel “kepemudaan dan masyarakat”. Lihatlah efek dan kontribusi BlackInnovatioAwards dan BlackInnovatioAwards goes to Campus yang telah menggali dalam dalam potensi anak negeri ini. Sedangkan kita? Semoga ke depanya kita mampu berbuat jauh lebih besar daripada mereka (Djarum).
Apakah tangan baja di balik sukses event ini yang akan menjadi gambaran sosok pemimpin ideal yang selama ini saya pertanyakan? Sempat belajar dari ketangguhanya (meskipun saya sendiri tak tahu seperti apa beliau, saya hanya mengambil sari dari karya-karya yang terwujud lewat Djarum), namun saya akhirnya memilih untuk ‘tak menempatkan beliau sebagai sosok jawaban atas pertanyaan saya tentang sosok pemimpin yang ideal, sosok pemimpin yang sesungguhnya.
Sejauh ini saya melihat “ke-real-an” seorang pemimpin selalu berbeda dalam setiap karakter bidangnya…
Saya melihat real leader dalam investasi adalah Warren Buffet dengan segala kesederhanaannya di balik labelnya sebagai mestro investasi sepanjang masa...
Saya melihat real leader dalam industri adalah Matshusihta Konosuke dengan filosofinya bahwa depresi ekonomi terburuk dalam sejarah tak lebih penting daripada kesejahteraan dan kelangsungan hidup karyawan dan keluarganya…
Saya meilhat real leader dalam kenegaraan adalah Prabu Siliwangi yang dengan tegas berkata: pantang menjadi Raja yang rakyatnya miskin dan menderita…
Saya melihat real leader itu seperti Leonidas, memimpin pasukan dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dari musuhnya, namun tetap menjaga semangatnya hingga akhirnya memenangkan pertempuran…
Saya melihat real leader itu seperti Salahuddin, memimpin pasukan dengan jumlah yang jauh lebih besar dari musuhnya namun tetap rendah hati dan begitu menghargai musuhnya…
Saya melihat real leader itu seperti Umar al faruq, yang mengemban sendiri apa-apa yang menjadi kewajibanya sendiri, tanpa menyalahgunakan kekuasaanya…
Dan saya juga melihat real leader itu dalam gambaran permaknaan hidup saya bahwa dia adalah seorang yang akan memastikan misi kelompoknya selesai meskipun dia menjadi satu-satunya orang yang tersisa…
Ya, mungkin ini hanya karena kemampuan pikir saya yang begitu "kerdil" hingga sulit menemukan sosok pemimpin yang sejati dan mudah untuk kita teladani.
Yang pasti, menurut saya, “The Real Leader” bukanlah seseorang, namun beberapa karakter, ia adalah kumpulan kehebatan karakter dari orang-orang hebat, dan bukan tak mungkin di dunia ini ada sosok tersebut.
Ia adalah sifat yang mampu menggerakkan massa yang banyak untuk memaksimalkan pencapaian tujuan.
Ia adalah sifat yang mampu memotivasi yang sedikit hingga menghasilkan karya besar.
Ia adalah sifat yang selalu menguatkan diri sendiri dan bermanfaat bagi pergerakan orang-orang yang dipimpinya.
Dan terlebih, ia adalah sifat yang mampu berbicara bukan sebagai dirinya, yang mampu melihat dari kacamata setiap elemen yang ia pimpin, dan berpikir di luar “kotak” yang membatasi.
“The Real Leader” adalah seorang kondisional yang tau kapan dan kenapa ia harus bersikap, seorang yang terus belajar tanpa pernah menyadari bahwa ialah pemimpin besar itu…
Baca Selengkapnya...
Sosok pemimpin yang telah membangkitkan semangat hingga brand Djarum berkibar tinggi, sosok pemimpin yang menurut saya telah mampu melawan semua kontroversi tentang rokok. Ya, seburuk apapun citra rokok di hadapan banyak orang, sosok pemimpin inilah yang telah menggerakkan Djarum untuk berbuat jauh lebih besar daripada ratusan LSM dan organisasi di luar sana yang berlabel “kepemudaan dan masyarakat”. Lihatlah efek dan kontribusi BlackInnovatioAwards dan BlackInnovatioAwards goes to Campus yang telah menggali dalam dalam potensi anak negeri ini. Sedangkan kita? Semoga ke depanya kita mampu berbuat jauh lebih besar daripada mereka (Djarum).
Apakah tangan baja di balik sukses event ini yang akan menjadi gambaran sosok pemimpin ideal yang selama ini saya pertanyakan? Sempat belajar dari ketangguhanya (meskipun saya sendiri tak tahu seperti apa beliau, saya hanya mengambil sari dari karya-karya yang terwujud lewat Djarum), namun saya akhirnya memilih untuk ‘tak menempatkan beliau sebagai sosok jawaban atas pertanyaan saya tentang sosok pemimpin yang ideal, sosok pemimpin yang sesungguhnya.
Sejauh ini saya melihat “ke-real-an” seorang pemimpin selalu berbeda dalam setiap karakter bidangnya…
Saya melihat real leader dalam investasi adalah Warren Buffet dengan segala kesederhanaannya di balik labelnya sebagai mestro investasi sepanjang masa...
Saya melihat real leader dalam industri adalah Matshusihta Konosuke dengan filosofinya bahwa depresi ekonomi terburuk dalam sejarah tak lebih penting daripada kesejahteraan dan kelangsungan hidup karyawan dan keluarganya…
Saya meilhat real leader dalam kenegaraan adalah Prabu Siliwangi yang dengan tegas berkata: pantang menjadi Raja yang rakyatnya miskin dan menderita…
Saya melihat real leader itu seperti Leonidas, memimpin pasukan dengan jumlah yang jauh lebih sedikit dari musuhnya, namun tetap menjaga semangatnya hingga akhirnya memenangkan pertempuran…
Saya melihat real leader itu seperti Salahuddin, memimpin pasukan dengan jumlah yang jauh lebih besar dari musuhnya namun tetap rendah hati dan begitu menghargai musuhnya…
Saya melihat real leader itu seperti Umar al faruq, yang mengemban sendiri apa-apa yang menjadi kewajibanya sendiri, tanpa menyalahgunakan kekuasaanya…
Dan saya juga melihat real leader itu dalam gambaran permaknaan hidup saya bahwa dia adalah seorang yang akan memastikan misi kelompoknya selesai meskipun dia menjadi satu-satunya orang yang tersisa…
Ya, mungkin ini hanya karena kemampuan pikir saya yang begitu "kerdil" hingga sulit menemukan sosok pemimpin yang sejati dan mudah untuk kita teladani.
Yang pasti, menurut saya, “The Real Leader” bukanlah seseorang, namun beberapa karakter, ia adalah kumpulan kehebatan karakter dari orang-orang hebat, dan bukan tak mungkin di dunia ini ada sosok tersebut.
Ia adalah sifat yang mampu menggerakkan massa yang banyak untuk memaksimalkan pencapaian tujuan.
Ia adalah sifat yang mampu memotivasi yang sedikit hingga menghasilkan karya besar.
Ia adalah sifat yang selalu menguatkan diri sendiri dan bermanfaat bagi pergerakan orang-orang yang dipimpinya.
Dan terlebih, ia adalah sifat yang mampu berbicara bukan sebagai dirinya, yang mampu melihat dari kacamata setiap elemen yang ia pimpin, dan berpikir di luar “kotak” yang membatasi.
“The Real Leader” adalah seorang kondisional yang tau kapan dan kenapa ia harus bersikap, seorang yang terus belajar tanpa pernah menyadari bahwa ialah pemimpin besar itu…
Baca Selengkapnya...
Saur "Kartini" Manurung
Pernah mendengar nama Saur ”Kartini” Manurung? Belum? Benar belum?! Hmmm...wajar lah kalau begitu!hehe.. Memang dia lebih dikenal dengan nama Butet Manurung. Wanita kelahiran Jakarta ini adalah figur Kartini masa kini yang sesungguhnya. Dialah penerima award Woman Of The Year dari ANTV pada tahun 2004. Saya juga nggak tahu nih kenapa kata “Butet Manurung” menjadi respon pertama yang diberikan oleh otak saya ketika saya membaca tulisan tentang acara blackinnovationawards dan blackinnovationawards goes to campus. Mungkin karena dua kata itu mengandung dua unsur yang erat kaitannya dengan butet manurung, Innovation dan campus.
Inovasi dan campus memang identik dengan Butet Manurung. Dalam kacamata saya, beliau adalah icon yang tepat saat ini untuk menggambarkan perjuangan dalam dunia pendidikan (yang terkait dalam kata kampus), dan keberanian dalam ”berkreasi (inovasi), maybe that’s why her name become the fisrt respons from my brain :)
Yang saya sukai dari sosok butet adalah ketegasanya dalam berjuang, dia berani dan pandai berinovasi. Hal ini saya lihat dari kemampuanya mengkreasikan pola pendidikan yang tepat bagi kelompok suku pedalaman. Yang mana tak mudah untuk mendidik mereka, bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka merasa belum dan bahkan tidak membutuhkan pendidikan.
Sebesar apapun potensi seseorang jika mereka tak punya kemauan belajar, apakah mereka akan dapat berkembang? Tentu tidak! Namun disini tangan dingin butet, tekad bajanya, dan ide-ide kreatifnya telah membuat semua kesulitan itu pudar...
Kegigihanya berjuang memberikan pendidikan yang tepat bagi orang-orang pedalaman dengan cara menyelami benar-benar pola hidup mereka, patutlah diacungi 2 jempol. Tak banyak orang-orang di negeri ini yang "akan" mau berkarya seperti beliau, sekali lagi yang akan mau, bukan mampu. Karena saya percaya bahwa banyak orang di negeri ini yang mampu melakukan hal-hal seperti yang beliau lakukan.
Nama asli beliau adalah Saur Marlina Manurung, dan lebih dikenal dengan panggilan ”butet”. Dan jika saya menambahkan nama ”Kartini” di sela-sela nama beliau itu, karena saya beranggapan bahwa memang sosok butet lah yang menurut saya,dan yang saya ketahui saat ini sebagai orang yang mengabdi setulus Ibu Kartini, dialah orang yang memberdayakan masyarakat se-concern Ibu Kartini...
Dialah, Kartini masa kini...
Baca Selengkapnya...
Inovasi dan campus memang identik dengan Butet Manurung. Dalam kacamata saya, beliau adalah icon yang tepat saat ini untuk menggambarkan perjuangan dalam dunia pendidikan (yang terkait dalam kata kampus), dan keberanian dalam ”berkreasi (inovasi), maybe that’s why her name become the fisrt respons from my brain :)
Yang saya sukai dari sosok butet adalah ketegasanya dalam berjuang, dia berani dan pandai berinovasi. Hal ini saya lihat dari kemampuanya mengkreasikan pola pendidikan yang tepat bagi kelompok suku pedalaman. Yang mana tak mudah untuk mendidik mereka, bukan karena mereka bodoh, tapi karena mereka merasa belum dan bahkan tidak membutuhkan pendidikan.
Sebesar apapun potensi seseorang jika mereka tak punya kemauan belajar, apakah mereka akan dapat berkembang? Tentu tidak! Namun disini tangan dingin butet, tekad bajanya, dan ide-ide kreatifnya telah membuat semua kesulitan itu pudar...
Kegigihanya berjuang memberikan pendidikan yang tepat bagi orang-orang pedalaman dengan cara menyelami benar-benar pola hidup mereka, patutlah diacungi 2 jempol. Tak banyak orang-orang di negeri ini yang "akan" mau berkarya seperti beliau, sekali lagi yang akan mau, bukan mampu. Karena saya percaya bahwa banyak orang di negeri ini yang mampu melakukan hal-hal seperti yang beliau lakukan.
Nama asli beliau adalah Saur Marlina Manurung, dan lebih dikenal dengan panggilan ”butet”. Dan jika saya menambahkan nama ”Kartini” di sela-sela nama beliau itu, karena saya beranggapan bahwa memang sosok butet lah yang menurut saya,dan yang saya ketahui saat ini sebagai orang yang mengabdi setulus Ibu Kartini, dialah orang yang memberdayakan masyarakat se-concern Ibu Kartini...
Dialah, Kartini masa kini...
Baca Selengkapnya...
Setiap Kita Adalah Spesial
Tiba-tiba saya terpikir kenapa ada hal-hal yang bersifat spesialis atau spesifik dalam kehidupan ini. Orang-orang memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri, entah itu spesialis yang sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, seperti spesialis tambal ban, sampai spesialis yang sering dianggap begitu terhormat seperti para diplomat papan atas.
Dalam hal lain, makluk hidup selain manusia pun memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri, binatang, diantara mereka ada yang spesialis peliharaan, spesialis sirkus, spesialis penjaga, dan lain-lain. Demikian halnya dengan tumbuhan, mereka ada yang spesialis hias, obat, dan yang lainya.
Bahkan dalam hal bukan makluk hidup pun juga punya spesialisasinya sendiri. Pilihan produk rokok misalnya, Djarum Black slimz dan Djarum Black Menthol yang tampak lebih “menspesialkan” dirinya untuk pasar kalangan muda, sementara produk Djarum 76 yang tampak seperti mengisi pasar paruh baya keatas.
Apa pentingnya spesialis?
Saya rasa sudah banyak referensi yang membahas tentang pentingnya spesialis. Secara umum bisa saya katakan bahwa orang-orang atau hal-hal yang fokus akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih besar daripada orang-orang yang memiliki kemampuan general atau umum, atau yang “berusaha” serba bisa dan tidak fokus pada spesialisasinya.
Namun yang belum banyak dibahas untuk kita sadari adalah kesadaran bahwa setiap kita adalah seorang yang spesial. Yang saya lihat dalam hal ini terbukti dari begitu banyaknya orang-orang yang menghargai rendah dirinya sendiri dengan menyia-nyiakan potensi dirinya. Banyak orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak jelas juga merupakan sebuah tanda yang menunjukkan tingkat rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Kebanyakan mereka mengatakan, “kemapuan saya hanya ini-ini saja dan sudah tak dapat berkembang”. Alasan inilah yang sering diajukan untuk menutupi kemalasan mereka dalam berusaha. Namun mungkin hal ini juga diakibatkan kurangnya kesadaran mereka akan potensi spesialis yang mereka punya. Jadi bukan semata-mata karena tak mau, tapi juga karena mereka tak tahu. Siapa sih yang tidak ingin sukses?
So, saya rasa sepatutnya kita bersyukur bahwa kita masih menjadi orang yang menyadari bahwa kita memiliki potensi, yang dengannya kita dapat menjadi spesialis hebat dalam bidang kita masing-masing.
Baca Selengkapnya...
Dalam hal lain, makluk hidup selain manusia pun memiliki spesialisasinya sendiri-sendiri, binatang, diantara mereka ada yang spesialis peliharaan, spesialis sirkus, spesialis penjaga, dan lain-lain. Demikian halnya dengan tumbuhan, mereka ada yang spesialis hias, obat, dan yang lainya.
Bahkan dalam hal bukan makluk hidup pun juga punya spesialisasinya sendiri. Pilihan produk rokok misalnya, Djarum Black slimz dan Djarum Black Menthol yang tampak lebih “menspesialkan” dirinya untuk pasar kalangan muda, sementara produk Djarum 76 yang tampak seperti mengisi pasar paruh baya keatas.
Apa pentingnya spesialis?
Saya rasa sudah banyak referensi yang membahas tentang pentingnya spesialis. Secara umum bisa saya katakan bahwa orang-orang atau hal-hal yang fokus akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih besar daripada orang-orang yang memiliki kemampuan general atau umum, atau yang “berusaha” serba bisa dan tidak fokus pada spesialisasinya.
Namun yang belum banyak dibahas untuk kita sadari adalah kesadaran bahwa setiap kita adalah seorang yang spesial. Yang saya lihat dalam hal ini terbukti dari begitu banyaknya orang-orang yang menghargai rendah dirinya sendiri dengan menyia-nyiakan potensi dirinya. Banyak orang yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal yang tidak jelas juga merupakan sebuah tanda yang menunjukkan tingkat rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri.
Kebanyakan mereka mengatakan, “kemapuan saya hanya ini-ini saja dan sudah tak dapat berkembang”. Alasan inilah yang sering diajukan untuk menutupi kemalasan mereka dalam berusaha. Namun mungkin hal ini juga diakibatkan kurangnya kesadaran mereka akan potensi spesialis yang mereka punya. Jadi bukan semata-mata karena tak mau, tapi juga karena mereka tak tahu. Siapa sih yang tidak ingin sukses?
So, saya rasa sepatutnya kita bersyukur bahwa kita masih menjadi orang yang menyadari bahwa kita memiliki potensi, yang dengannya kita dapat menjadi spesialis hebat dalam bidang kita masing-masing.
Baca Selengkapnya...
Subscribe to:
Posts (Atom)









