07 February 2010
Makmurnya Negeri Ini
Saya tidak sedang bercanda dengan judul diatas, saya juga tidak sedang ”tidak sadar” saat membuat tulisan ini. Saya hanya ingin melihat lebih dalam tentang negeri yang amat saya cintai ini dengan lebih jernih.
Saya pernah tergelitik melihat video kontemplasi tentang negeri ini (sayang pas aku upload ke youtube error terus), namun saya sangat salut kepada sang kreator. Sungguh sebuah kreasi seni yang luar biasa, seandainya ada lomba kreasi video kontemplasi layaknya ajang saya yakin video itulah pemenangnya (nanti ya saya adakan).
Video itu menyuguhkan konsep yang sangat menarik dimana antara narasi dan gambar yang diperlihatkan menunjukkan makna yang berlawanan, ketika sang narator menyajikan suara tentang negeriku yang makmur dan damai, maka sang gambar justru menampilkan visualisasi tentang pengemis dan anak-anak jalanan serta carut marutnya keamanan di negeri kita...
Sungguh menarik, metode ini mengingatkan saya, bahwa segala sesuatu memang memiliki dua buah sisi yang saling berlawanan. Seperti dua sisi mata pisau kata pepatah, di satu sisi bisa begitu tumpul namun di sisi lain bisa sangat tajam. Tetapi tahukah anda, kalau kedua sisi mata pisau itu jika kita asah dengan sungguh-sungguh, bisa sama tajamnya? Bukankah awalnya kedua sisi pisau tersebut sama-sama tumpul? kemudian dibuat tajam salah satu sisinya agar dapat digunakan. Lantas dari video tersebut manakah yang benar? Sang audio ataukah sang visual? Jangan bilang kalau dua-duanya benar, karena makmur itu relatif.
Dalam kasus ini dengan mata tertutup kita akan tetap tahu kalau negeri kita ini, masih jauh dari kata makmur. Namun seperti halnya filosofi pisau tadi, negeri kita sebenarnya juga memiliki sisi tajamnya (orang-orang suksesnya) tersendiri.
Berangkat dari analogi saya, maka menurut saya sisi tumpul negeri kitapun dapat kita asah! Bukankah begitu? Seharunya, iya. Namun melakukan transformasi memang tidak semudah yang kita bayangkan, berubah dari yang buruk menjadi baik itu bukan hal sepele, demikian juga berpindah dari /komunitas hitam (yang sering diplot ”berandal” oleh masyarakat-padahal tidak selalu seperti itu) menuju generasi yang putih bersih adalah sebuah perjuangan panjang dan tidak mudah. Terlebih jika berbicara dalam konteks sebuah bangsa.
Namun seperti yang saya yakini, bahwa tidak ada yang tidak dapat kita wujudkan jika hal itu sudah dapat kita bayangkan. Saya percaya impian kita itu sama halnya dengan sebuah blue print yang (seharusnya) bisa kita capai. Tapi, bagaimana kita bisa mewujudkan semua itu? Ah, salah kalau anda bertanya pada saya... Saya pun tidak tahu jalan mana yang bisa mengantarkan kita pada kemakmuran negeri ini.
Saya cuman bisa mengatakan pada anda, kata orang-orang bijak: untuk merubah yang besar (bangsa kita), konon kita harus memulainya dari sekarang, dari diri kita sendiri, dan dari hal-hal kecil...
Seperti lomba blog yang tengah digelar ini, saya yakin gelaran Blog Vol.1 juga dimulai dari awal yang kecil (aspek peserta,dll), mereka tentu membuat Vol.2 ini lebih ’besar’ daripada Vol 1. Dan saya juga masih percaya kalau sesuatu yang besar itu akan hadir setelah sebelumnya didahului yang lebih kecil. Bukankah tanpa kata kecil kita tidak akan mengenal kata besar? Tapi ini cuma pendapat saya pribadi, saya yakin teman-teman blogger punya jawaban berbbeda, dan semoga kita bisa saling berbagi disini, bukan untuk saya atau anda, karena mungkin kita sudah tidak eksis lagi saat negeri ini makmur, tapi untuk ganerasi depan yang lebih gemilang.
Karena menuju kemakmuran bukanlah sebuah revolusi, melainkan sebuah evolusi... dan kita yang akan mengawali Negeri ini meraih keMAKMURan. Amien...
Baca Selengkapnya...
Saya pernah tergelitik melihat video kontemplasi tentang negeri ini (sayang pas aku upload ke youtube error terus), namun saya sangat salut kepada sang kreator. Sungguh sebuah kreasi seni yang luar biasa, seandainya ada lomba kreasi video kontemplasi layaknya ajang saya yakin video itulah pemenangnya (nanti ya saya adakan).
Video itu menyuguhkan konsep yang sangat menarik dimana antara narasi dan gambar yang diperlihatkan menunjukkan makna yang berlawanan, ketika sang narator menyajikan suara tentang negeriku yang makmur dan damai, maka sang gambar justru menampilkan visualisasi tentang pengemis dan anak-anak jalanan serta carut marutnya keamanan di negeri kita...
Sungguh menarik, metode ini mengingatkan saya, bahwa segala sesuatu memang memiliki dua buah sisi yang saling berlawanan. Seperti dua sisi mata pisau kata pepatah, di satu sisi bisa begitu tumpul namun di sisi lain bisa sangat tajam. Tetapi tahukah anda, kalau kedua sisi mata pisau itu jika kita asah dengan sungguh-sungguh, bisa sama tajamnya? Bukankah awalnya kedua sisi pisau tersebut sama-sama tumpul? kemudian dibuat tajam salah satu sisinya agar dapat digunakan. Lantas dari video tersebut manakah yang benar? Sang audio ataukah sang visual? Jangan bilang kalau dua-duanya benar, karena makmur itu relatif.
Dalam kasus ini dengan mata tertutup kita akan tetap tahu kalau negeri kita ini, masih jauh dari kata makmur. Namun seperti halnya filosofi pisau tadi, negeri kita sebenarnya juga memiliki sisi tajamnya (orang-orang suksesnya) tersendiri.
Berangkat dari analogi saya, maka menurut saya sisi tumpul negeri kitapun dapat kita asah! Bukankah begitu? Seharunya, iya. Namun melakukan transformasi memang tidak semudah yang kita bayangkan, berubah dari yang buruk menjadi baik itu bukan hal sepele, demikian juga berpindah dari /komunitas hitam (yang sering diplot ”berandal” oleh masyarakat-padahal tidak selalu seperti itu) menuju generasi yang putih bersih adalah sebuah perjuangan panjang dan tidak mudah. Terlebih jika berbicara dalam konteks sebuah bangsa.
Namun seperti yang saya yakini, bahwa tidak ada yang tidak dapat kita wujudkan jika hal itu sudah dapat kita bayangkan. Saya percaya impian kita itu sama halnya dengan sebuah blue print yang (seharusnya) bisa kita capai. Tapi, bagaimana kita bisa mewujudkan semua itu? Ah, salah kalau anda bertanya pada saya... Saya pun tidak tahu jalan mana yang bisa mengantarkan kita pada kemakmuran negeri ini.
Saya cuman bisa mengatakan pada anda, kata orang-orang bijak: untuk merubah yang besar (bangsa kita), konon kita harus memulainya dari sekarang, dari diri kita sendiri, dan dari hal-hal kecil...
Seperti lomba blog yang tengah digelar ini, saya yakin gelaran Blog Vol.1 juga dimulai dari awal yang kecil (aspek peserta,dll), mereka tentu membuat Vol.2 ini lebih ’besar’ daripada Vol 1. Dan saya juga masih percaya kalau sesuatu yang besar itu akan hadir setelah sebelumnya didahului yang lebih kecil. Bukankah tanpa kata kecil kita tidak akan mengenal kata besar? Tapi ini cuma pendapat saya pribadi, saya yakin teman-teman blogger punya jawaban berbbeda, dan semoga kita bisa saling berbagi disini, bukan untuk saya atau anda, karena mungkin kita sudah tidak eksis lagi saat negeri ini makmur, tapi untuk ganerasi depan yang lebih gemilang.
Karena menuju kemakmuran bukanlah sebuah revolusi, melainkan sebuah evolusi... dan kita yang akan mengawali Negeri ini meraih keMAKMURan. Amien...
Baca Selengkapnya...
26 January 2010
Sisi Lain Kehidupan Mereka Yang "Hitam"
Jangan berpikir kalau saya sedang membuat tulisan yang berbau rasisme ya! Karena saya sepenuhnya pendukung gerakan anti-rasisme:), meminjam slogannya FIFA tentang anti-rasisme, “Let’s Kick Racism Out From Our Earth! :D”… Kalangan hitam yang saya maksud disini bukanlah kelompok orang hitam, Black Community, Black Car Community, maupun Black Motor Community. Pemilik sisi lain kehidupan yang saya maksud disini adalah saudara-saudara kita yang (menurut orang-orang) kurang beruntung karena menyandang tuna netra. Ya, merekalah kelompok orang yang kehidupanya benar-benar hitam, jauh lebih hitam pekat dari hitamnya hidup yang sering kita keluhkan ini. Saya rasa kita semua setuju akan hal ini.
Kehidupan mereka memang hitam dalam arti yang sebenarnya, karena sepanjang hidup mereka, entah saat terjaga ataupun tertidur, yang mereka lihat hanyalah kegelapan. Satu-satunya warna yang mereka tahu hanyalah warna hitam. Ada beberapa diantara para penyandang tuna netra ini yang mengalami kebutaan sejak lahir, sejak kecil, dan ada pula yang setelah dewasa baru mengalami kebutaan dengan berbagai sebab. Ada yang hanya mengalami kebutaan sementara namun tak sedikit pula yang sepanjang hidupnya harus melihat “kegelapan”.
Dan sungguh menyedihkan ketika saya mengetahui bahwa beberapa diantara mereka lebih memilih untuk tidak hidup lebih lama, lantaran tidak sanggup jika harus menjalani hidup dalam dunia yang “hitam”. Mungkin karena kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat sehingga semangat hidupnya pudar, mungkin juga karena mereka belum mampu memaknai hidup yang sesungguhnya…ah, entahlah…
"Namun apakah mereka yang menyandang tuna netra tidak memiliki sisi menyenangkan dalam hidupnya?"
Beberapa hari yang lalu saat melihat tayangan Metro Sport, di segmen terakhir disajikan sebuah berita tentang kejuaraan sepak bola bagi para penyandang tuna netra, dan tak tanggung-tanggung labelnya pun kejuaraan dunia! Menyaksikan liputan itu membuat saya mengerti bahwa dunia merekapun sama indahnya dengan dunia kita.
Saya begitu salut melihat mereka bermain bola, sungguh suatu kombinasi intuisi dan teknik yang sangat baik dalam mencetak gol. Seandainya saya yang harus ikut tampil disana dengan mata tertutup, saya tidak yakin mampu mengimbangi mereka…
Saat melihat aksi mereka ketika mencetak gol saya pun terbayang betapa bahagianya perasaan mereka, mungkin gol mereka tidak secantik yang biasa dicetak Marco Borrielo, namun soal prouding golnya saya yakin bahwa gol mereka jauh lebih membanggakan.
Berangsur-angsur kemudian saya mencoba memahami kehidupan mereka meski tak seutuhnya, saya mulai tahu bahwa banyak talenta hebat di dunia yang berasal dari orang-orang yang beruntung karena mereka tak dapat meilhat. Ya, mereka beruntung karena mereka mampu mebuktikan pada dunia bahwa dalam segala keterbatasan, mereka masih mampu menjadi orang-orang besar. Seolah mereka sedang menyindir kita yang memiliki penglihatan sempurna, “Lihatlah kami yang tak dapat melihat telah mampu mengguncang dunia dengan prestasi yang bahkan tidak pernah terpikir olehmu, apakah kalian akan kalah dari kami?”
Hellen Keller adalah salah satu orang yang telah dengan keras meyindir kita lewat catatan-catatanya sebagai salah seorang penulis terbesar. Dia, juga penyandang tuna netra.
Baca Selengkapnya...
Kehidupan mereka memang hitam dalam arti yang sebenarnya, karena sepanjang hidup mereka, entah saat terjaga ataupun tertidur, yang mereka lihat hanyalah kegelapan. Satu-satunya warna yang mereka tahu hanyalah warna hitam. Ada beberapa diantara para penyandang tuna netra ini yang mengalami kebutaan sejak lahir, sejak kecil, dan ada pula yang setelah dewasa baru mengalami kebutaan dengan berbagai sebab. Ada yang hanya mengalami kebutaan sementara namun tak sedikit pula yang sepanjang hidupnya harus melihat “kegelapan”.
Dan sungguh menyedihkan ketika saya mengetahui bahwa beberapa diantara mereka lebih memilih untuk tidak hidup lebih lama, lantaran tidak sanggup jika harus menjalani hidup dalam dunia yang “hitam”. Mungkin karena kurangnya dukungan dari orang-orang terdekat sehingga semangat hidupnya pudar, mungkin juga karena mereka belum mampu memaknai hidup yang sesungguhnya…ah, entahlah…
"Namun apakah mereka yang menyandang tuna netra tidak memiliki sisi menyenangkan dalam hidupnya?"
Beberapa hari yang lalu saat melihat tayangan Metro Sport, di segmen terakhir disajikan sebuah berita tentang kejuaraan sepak bola bagi para penyandang tuna netra, dan tak tanggung-tanggung labelnya pun kejuaraan dunia! Menyaksikan liputan itu membuat saya mengerti bahwa dunia merekapun sama indahnya dengan dunia kita.
Saya begitu salut melihat mereka bermain bola, sungguh suatu kombinasi intuisi dan teknik yang sangat baik dalam mencetak gol. Seandainya saya yang harus ikut tampil disana dengan mata tertutup, saya tidak yakin mampu mengimbangi mereka…
Saat melihat aksi mereka ketika mencetak gol saya pun terbayang betapa bahagianya perasaan mereka, mungkin gol mereka tidak secantik yang biasa dicetak Marco Borrielo, namun soal prouding golnya saya yakin bahwa gol mereka jauh lebih membanggakan.
Berangsur-angsur kemudian saya mencoba memahami kehidupan mereka meski tak seutuhnya, saya mulai tahu bahwa banyak talenta hebat di dunia yang berasal dari orang-orang yang beruntung karena mereka tak dapat meilhat. Ya, mereka beruntung karena mereka mampu mebuktikan pada dunia bahwa dalam segala keterbatasan, mereka masih mampu menjadi orang-orang besar. Seolah mereka sedang menyindir kita yang memiliki penglihatan sempurna, “Lihatlah kami yang tak dapat melihat telah mampu mengguncang dunia dengan prestasi yang bahkan tidak pernah terpikir olehmu, apakah kalian akan kalah dari kami?”
Hellen Keller adalah salah satu orang yang telah dengan keras meyindir kita lewat catatan-catatanya sebagai salah seorang penulis terbesar. Dia, juga penyandang tuna netra.
Baca Selengkapnya...
11 January 2010
Wajah Hukum Di Negeri Kita
Hari ini sarapanku terasa begitu hambar. Betapa tidak, saat makan aku ditemani berita yang sangat menyesakkan, sangat meyedihkan, dan sangat memalukan. “Orang kaya di penjara”, begitu headline yang diberikan. Berita itu mengupas tentang “kesengsaraan” kehidupan 2 terpidana “papan atas”, Artalyta Suryani dan A Ling. Seperti kita ketahui, Artalyta Suryani adalah terpidana kasus suap yang pada 24 Februari 2009 lalu divonis 5 tahun penjara plus denda 250 juta rupiah, sementara A Ling adalah terpidana kasus narkoba yang diganjar hukuman seumur hidup.
Hari ini Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang baru saja dibentuk oleh Presiden SBY membeberkan sebuah temuan yang sangat mengejutkan saat mereka “membesuk” Artalyta Suryani dan A Ling. Apa yang istimewa sehingga kunjungan tersebut begitu mengejutkan? Gimana mau tidak heran, penjara yang seharusnya memberikan efek jera malah lebih pantas disebut sebagai apartemen pribadi.
Bagaimana tidak, kamar tahanan mereka memiliki fasilitas maha mewah untuk ukuran seorang napi. Kamar mereka dilengkapi ruang tamu berkelas, pendingin ruangan, set komputer, plasma TV, kamar mandi pribadi, ranjang super nyaman, hingga ruang karaoke. Wow, inikah yang namanya penjara? Kamar tahanan mereka pun terbilang sangat luas, kamar Artalyta seluas 3,5 x 6 m, sementara kamar A Ling malah lebih luas lagi yaitu 8 x 8 m. Bandingkan dengan tahanan lain yang harus berjubel dalam satu kamar yang diisi hingga 17 napi!!!
Yang lebih menyedihkan lagi adalah penjelasan Dirjen Lembaga Pemasyarakatan, Untung S, yang menyatakan wajar jika seorang napi mendapat fasilitas pribadi. Jika memang wajar dan hal itu dibenarkan adanya, lalu mengapa semua napi yang lain di rutan itu tidak tahu menahu? Kenapa tidak dibuka saja tawaran kepada semua napi fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh manajemen rutan? Kenapa tidak di-bisniskan saja secara terang-terangan agar rakyat dan para penjahat di negeri kita bisa tenang, karena penjara di Indonesia ternyata sangat nyaman (jika kita orang kaya). Lebih jauh lagi alibi yang dilontarkan adalah alasan keamanan, padahal pihak rutan sendiri mengakui tidak ada ancaman apapun. Jika memang alasan keamanan, kenapa yang disediakan oleh manajemen rutan bukan fasilitas keamanan melainkan fasilititas kenyamanan? Kalau benar karena faktor keamanan, mengapa tidak diisolasikan saja hingga kekawatiran tentang isu keamanan mereka mereda? Ah…mungkin memang benar, tidak ada ancaman keamanan sama sekali.
Ya...begitulah wajah hukum di negeriku tercinta. Sedih memang, tapi mau apa lagi. Bukan bagian saya untuk melakukan demonstrasi. Hanya mencoba menyebarkan informasi lewat tulisan ini, agar rakyat juga tahu bahwa jika kita seorang yang kaya raya, kita tidak perlu lagi takut melanggar hukum. Karena penjarapun bisa kita sulap menjadi rumah pribadi. Seperti yang telah dilakukan oleh Tommy Soeharto, Bob Hasan, dan kini Ayin(sapaan akrab untuk Artalyta Suryani) dan kawan-kawan. Dengan temuan tersebut semakin memantapkan pendapat beberapa orang bahwa uang adalah segala-galanya. Memang memalukan, tapi inilah realita yang kita saksikan selama ini. Uang telah mematikan perasaan sebagian besar saudara kita yang duduk di pemerintahan. Tapi saya yakin masih banyak putra-putri bangsa ini yang masih memiliki hati nurani. Terlebih lagi kita yang terlibat "perang" di medan Djarum Black Blog Competition ini, di medan Autoblackthrough ini, pasti jauh lebih terhormat daripada mereka, para koruptor, pengedar narkoba, dan mafia peradilan yang tidak pernah sadar akan perbuatannya yang begitu menjijikkan.
Baca Selengkapnya...
Hari ini Satgas Pemberantasan Mafia Hukum yang baru saja dibentuk oleh Presiden SBY membeberkan sebuah temuan yang sangat mengejutkan saat mereka “membesuk” Artalyta Suryani dan A Ling. Apa yang istimewa sehingga kunjungan tersebut begitu mengejutkan? Gimana mau tidak heran, penjara yang seharusnya memberikan efek jera malah lebih pantas disebut sebagai apartemen pribadi.
Bagaimana tidak, kamar tahanan mereka memiliki fasilitas maha mewah untuk ukuran seorang napi. Kamar mereka dilengkapi ruang tamu berkelas, pendingin ruangan, set komputer, plasma TV, kamar mandi pribadi, ranjang super nyaman, hingga ruang karaoke. Wow, inikah yang namanya penjara? Kamar tahanan mereka pun terbilang sangat luas, kamar Artalyta seluas 3,5 x 6 m, sementara kamar A Ling malah lebih luas lagi yaitu 8 x 8 m. Bandingkan dengan tahanan lain yang harus berjubel dalam satu kamar yang diisi hingga 17 napi!!!
Yang lebih menyedihkan lagi adalah penjelasan Dirjen Lembaga Pemasyarakatan, Untung S, yang menyatakan wajar jika seorang napi mendapat fasilitas pribadi. Jika memang wajar dan hal itu dibenarkan adanya, lalu mengapa semua napi yang lain di rutan itu tidak tahu menahu? Kenapa tidak dibuka saja tawaran kepada semua napi fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh manajemen rutan? Kenapa tidak di-bisniskan saja secara terang-terangan agar rakyat dan para penjahat di negeri kita bisa tenang, karena penjara di Indonesia ternyata sangat nyaman (jika kita orang kaya). Lebih jauh lagi alibi yang dilontarkan adalah alasan keamanan, padahal pihak rutan sendiri mengakui tidak ada ancaman apapun. Jika memang alasan keamanan, kenapa yang disediakan oleh manajemen rutan bukan fasilitas keamanan melainkan fasilititas kenyamanan? Kalau benar karena faktor keamanan, mengapa tidak diisolasikan saja hingga kekawatiran tentang isu keamanan mereka mereda? Ah…mungkin memang benar, tidak ada ancaman keamanan sama sekali.
Ya...begitulah wajah hukum di negeriku tercinta. Sedih memang, tapi mau apa lagi. Bukan bagian saya untuk melakukan demonstrasi. Hanya mencoba menyebarkan informasi lewat tulisan ini, agar rakyat juga tahu bahwa jika kita seorang yang kaya raya, kita tidak perlu lagi takut melanggar hukum. Karena penjarapun bisa kita sulap menjadi rumah pribadi. Seperti yang telah dilakukan oleh Tommy Soeharto, Bob Hasan, dan kini Ayin(sapaan akrab untuk Artalyta Suryani) dan kawan-kawan. Dengan temuan tersebut semakin memantapkan pendapat beberapa orang bahwa uang adalah segala-galanya. Memang memalukan, tapi inilah realita yang kita saksikan selama ini. Uang telah mematikan perasaan sebagian besar saudara kita yang duduk di pemerintahan. Tapi saya yakin masih banyak putra-putri bangsa ini yang masih memiliki hati nurani. Terlebih lagi kita yang terlibat "perang" di medan Djarum Black Blog Competition ini, di medan Autoblackthrough ini, pasti jauh lebih terhormat daripada mereka, para koruptor, pengedar narkoba, dan mafia peradilan yang tidak pernah sadar akan perbuatannya yang begitu menjijikkan.
***
Sedih memang melihat bobroknya hukum di negeri ini, tapi inilah negeriku yang akan terus bangkit menuju perbaikan...Baca Selengkapnya...
03 January 2010
Kembali Ke Laptop
Salah kalau anda pikir kita sedang berada di acara Bukan Empat Mata yang dibawakan oleh Om Tukul. "Kembali Ke Laptop" memang sering di ucapkan oleh pelawak kondang tersebut pada saat pembicaraan sudah keluar dari topik yang diusung, yang kerap kali mulai mengarah kedalam pembicaraan yang terkesan "jorok". Seperti halnya Om Tukul, diawal tahun 2010 ini saya ingin menyuarakan "kembali ke laptop" dan bertekad menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang ditahun lalu sudah mulai keluar rel, semoga tahun ini bisa kembali ke jalur yang benar. Yang ditahun lalu sudah mulai bengkok, semoga tahun ini bisa lurus kembali. Semakin bisa menjauh dari kesombongan, dendam, amarah, dan penyakit hati lainnya. Bisa kembali menjalankan segala perintahnya yang sering aku lalaikan ditahun-tahun yang lalu. Mmmm... Pokoknya semua yang keluar dari agenda perjuangan semoga nggak akan terulang lagi ditahun ini. Amien.. amien.. amien (nggak ada "Rais" nya lho.. hehe... )
Selain terompet, kembang api, jagung bakar (ayam bakar juga nggak apa-apa), tahun baru juga identik banget dengan evaluasi diri. Yap, tahun baru memang sebuah momen yang tepat untuk menilai apa saja yang telah kita lakukan setahun sebelumnya. Tak ubahnya saat penerimaan rapor, ada yang merasa puas dengan nilai yang didapat, tapi tak sedikit pula yang merasa perlu adanya peningkatan. Api semangat untuk menjadi lebih baik dalam segala hal memang berkobar tinggi di awal tahun seperti ini. Tapi sayang semangat seperti ini biasanya hanya menyala ketika awal tahun dan mulai meredup beberapa hari setelahnya.
Seperti pada saat pertama kali mendaftar dalam lomba blog yang dipersembahkan oleh Djarum Black ini (kini ada varian barunya "Djarum Black Menthol, Djarum Black Slimz"), semangat, optimisme, dan percaya diri begitu kuat melekat dalam diri saya. Namun semuanya luntur beberapa hari kemudian. Saya bahkan sempat lupa kalau saya sedang mengikuti kompetisi ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Nggak jauh beda dengan acara "Bukan Empat Mata" tadi yang sering nglantur kemana-mana dan lupa akan tujuan semula, saya pun juga sedang mengalami hal yang demikian. Bisa jadi karena saya sedang dihadapkan pada hal lain yang nggak bisa ditinggalkan, namun bisa juga terjadi karena kurangnya komitmen saya. Untuk mengatasi hal ini saya akan "kembali ke laptop". Kembali pada spirit dan optimisme saat pertama kali mendaftar.
Sekilas memang nggak ada yang istimewa di dalam kata "kembali ke laptop". Namun kalau kita mau resapi lebih dalam lagi, kata ini seolah bisa menjadi alarm pada saat kita terlalu keasikan tidur. Seolah bisa menjadi rambu-rambu di jalan raya. Juga bisa menyadarkan ketika kita terlalu larut dalam arus yang menyesatkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan seperti kompas saat kita tersesat didalam lebatnya hutan. Hmmm... sedemikan bermanfaatkah kata tersebut? semuanya tergantung dari cara kita memandangnya, hehe...
O iya, ada yang kelupaan "Selamat Tahun Baru 2010" ya teman-teman :)
Baca Selengkapnya...
Selain terompet, kembang api, jagung bakar (ayam bakar juga nggak apa-apa), tahun baru juga identik banget dengan evaluasi diri. Yap, tahun baru memang sebuah momen yang tepat untuk menilai apa saja yang telah kita lakukan setahun sebelumnya. Tak ubahnya saat penerimaan rapor, ada yang merasa puas dengan nilai yang didapat, tapi tak sedikit pula yang merasa perlu adanya peningkatan. Api semangat untuk menjadi lebih baik dalam segala hal memang berkobar tinggi di awal tahun seperti ini. Tapi sayang semangat seperti ini biasanya hanya menyala ketika awal tahun dan mulai meredup beberapa hari setelahnya.
Seperti pada saat pertama kali mendaftar dalam lomba blog yang dipersembahkan oleh Djarum Black ini (kini ada varian barunya "Djarum Black Menthol, Djarum Black Slimz"), semangat, optimisme, dan percaya diri begitu kuat melekat dalam diri saya. Namun semuanya luntur beberapa hari kemudian. Saya bahkan sempat lupa kalau saya sedang mengikuti kompetisi ini. Bagaimana ini bisa terjadi? Nggak jauh beda dengan acara "Bukan Empat Mata" tadi yang sering nglantur kemana-mana dan lupa akan tujuan semula, saya pun juga sedang mengalami hal yang demikian. Bisa jadi karena saya sedang dihadapkan pada hal lain yang nggak bisa ditinggalkan, namun bisa juga terjadi karena kurangnya komitmen saya. Untuk mengatasi hal ini saya akan "kembali ke laptop". Kembali pada spirit dan optimisme saat pertama kali mendaftar.
Sekilas memang nggak ada yang istimewa di dalam kata "kembali ke laptop". Namun kalau kita mau resapi lebih dalam lagi, kata ini seolah bisa menjadi alarm pada saat kita terlalu keasikan tidur. Seolah bisa menjadi rambu-rambu di jalan raya. Juga bisa menyadarkan ketika kita terlalu larut dalam arus yang menyesatkan. Bahkan tidak tertutup kemungkinan seperti kompas saat kita tersesat didalam lebatnya hutan. Hmmm... sedemikan bermanfaatkah kata tersebut? semuanya tergantung dari cara kita memandangnya, hehe...
O iya, ada yang kelupaan "Selamat Tahun Baru 2010" ya teman-teman :)
Baca Selengkapnya...
24 December 2009
Don’t Judge a Book by It's Cover.
Pepatah yang satu ini sudah sangat populer di telinga kita, jangan mengadili buku hanya dari sampulnya, demikian kurang lebih terjemahan bebasnya. Namun benarkah apa yang disampaikan pepatah tersebut? Kita tidak akan pernah tahu sebelum melihat kenyataanya secara lebih dalam dan objektif.
Jangan menilai seseorang atau sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja, begitulah jika kita terjemahkan kedalam bahasa yang sebenarnya. Hampir semua orang, mulai dari kelompok terpelajar hingga kelompok terbelakang akan setuju dengan nasehat bijak tersebut. Karena mereka memang telah melihat bagaimana hal-hal yang nampak baik luarnya, ternyata buruk di dalamnya (begitu pula sebaliknya). Seperti kasus yang sedang hangat diberitakan belakangan ini, "perang dingin” antar penegak hukum di Negeri kita ini.
Kita tinggalkan saja pembicaraan tentang para petingi yang sedang unjuk kekuatan itu. Akan jauh lebih baik jika kita membahas tentang kelemahan diri kita sendiri agar bisa kita rubah mejadi kebaikan. Seandainya orang-orang "melihat tampilan luar" anda sebagai seorang yang buruk bahkan bejat, apakah yang akan anda lakukan? Marah dan menghujat balik kepada orang-orang itu? Membunuh mereka yang berani berkata seperti itu? Ataukah sabar menerima dan tenggelam dalam kesedihan lalu mengasingkan diri dan mati dalam kesepian anda? Terlepas dari diri anda, seperti yang telah dikatakan banyak orang, tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dihujat dan diejek. Tapi begitulah, orang-orang akan selalu berbicara tentang kita. Jika anda marah, anda salah, karena dengan begitu berarti anda sedang menutup rapat telinga anda dari kritik yang pasti baik untuk kemajuan anda dimasa mendatang. Jika anda bersedih dan larut dalam "pengasingan" maka anda juga salah, karena yang terbaik adalah mendegarkan kritikan mereka, melakukan introspeksi dan berubah!
Jika saat ini anda seorang yang dianggap sangat buruk dan gagal oleh orang-orang, jangan pernah putus asa. Karena fakta telah mengajarkan kita bahwa orang-orang dengan latar belakang yang buruk telah mampu bertransformasi mejadi orang-orang penting dan sukses di dunia ini. Masih tidak percaya? Kalau saya ceritakan bukti dengan catatan pribadi saya, tentu anda tidak akan yakin. Kalau catatan perjalanan pak RT di tempat saya tinggal yang saya ajukan, pasti anda juga masih akan menolak. Karena itu saya akan suguhkan sedikit catatan tentang 2 orang pemimpin besar dunia. Semoga anda pernah mendengar nama Franklin Delano Rossevelt dan Winston Churcill. Jika anda ragu dengan track record mereka, carilah referensi di om google :) Jika anda sudah tahu tentang sejarah kesuksesan mereka, saya akan sedikit menambahkan tentang masa lalu mereka berdua yang "kata orang" dinilai sebagai sosok yang gagal.
FD Rossevelt, adalah tokoh yang sering disebut suka berhubungan dengan politisi jahat dan suka takhayul astronomi. Dia memiliki 2 istri muda, suka melewatkan hari bersama rokok setiap menit dan 10 botol martini setiap hari. Sedangkan sosok kedua, Winston Churchill, dia tercatat pernah 2 kali dipecat, kebiasaanya adalah bangun sore-sore. Dia juga pernah tercatat sebagai pengguna narkoba, dan senang menghabiskan wisky tiap sore. “Kata orang" masa lalu mereka begitu kelam dan tidak patut untuk diteladani, namun pada akhirnya mereka telah berhasil menjadi tokoh yang disanjung dan dipuja karena kecemerlangan mereka.
Dari catatan singkat tentang mereka, kita dapat mengambil hikmah dari beberapa sudut pandang. Yang pertama sebagai ”orang lain”, seperti judul diatas, kita tidak boleh mengadili sesorang hanya dari tampilan luar dan masa lalunya. Sudah seharusnya kita memberi ruang kepada mereka untuk menunjukkan ”kelas” mereka sebagai orang-orang hebat. Yang kedua sebagai diri kita sendiri, tak sepantasnya kita mengadili diri kita sendiri berdasarkan kondisi masa lalu dan masa kini. Kita hanya harus membiarkan diri kita terus berkembang dan berubah kearah yang lebih baik! Tidak peduli seburuk apapun orang mengatakan tentang kita, karena jauh di dalam diri kita tersimpan potensi yang luar biasa.
That’s why, saya ingin mengajak kepada semua temen-temen pecinta Djarum Black, jangan menghakimi orang lain dan karyanya hanya dari tampilan luarnya saja. Jika anda mengikuti Djarum Black Blog Competition ini, jangan menghakimi blog orang lain hanya dari desain blognya saja. Jika anda peserta autoblackthrough, jangan menilai mobil orang lain jelek secara fisik saja, pun jika anda seorang innovator yang meramaikan ajang Blackinnovationawards jangan mengatakan temuan orang lain itu masih jauh dibawah standar, karena setiap temuan adalah hasil dari perjalanan ide yang panjang dan sangat berarti bagi pemiliknya. Dari semua hal diatas, bukankah lebih baik kita mencari persahabatan? Dengan saling memuji atas prestasi teman-teman kita, serta saling mengingatkan dan melengkapi atas kekurangan-kekurangan kita.
Baca Selengkapnya...
Jangan menilai seseorang atau sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja, begitulah jika kita terjemahkan kedalam bahasa yang sebenarnya. Hampir semua orang, mulai dari kelompok terpelajar hingga kelompok terbelakang akan setuju dengan nasehat bijak tersebut. Karena mereka memang telah melihat bagaimana hal-hal yang nampak baik luarnya, ternyata buruk di dalamnya (begitu pula sebaliknya). Seperti kasus yang sedang hangat diberitakan belakangan ini, "perang dingin” antar penegak hukum di Negeri kita ini.
Kita tinggalkan saja pembicaraan tentang para petingi yang sedang unjuk kekuatan itu. Akan jauh lebih baik jika kita membahas tentang kelemahan diri kita sendiri agar bisa kita rubah mejadi kebaikan. Seandainya orang-orang "melihat tampilan luar" anda sebagai seorang yang buruk bahkan bejat, apakah yang akan anda lakukan? Marah dan menghujat balik kepada orang-orang itu? Membunuh mereka yang berani berkata seperti itu? Ataukah sabar menerima dan tenggelam dalam kesedihan lalu mengasingkan diri dan mati dalam kesepian anda? Terlepas dari diri anda, seperti yang telah dikatakan banyak orang, tidak ada seorang pun di dunia ini yang suka dihujat dan diejek. Tapi begitulah, orang-orang akan selalu berbicara tentang kita. Jika anda marah, anda salah, karena dengan begitu berarti anda sedang menutup rapat telinga anda dari kritik yang pasti baik untuk kemajuan anda dimasa mendatang. Jika anda bersedih dan larut dalam "pengasingan" maka anda juga salah, karena yang terbaik adalah mendegarkan kritikan mereka, melakukan introspeksi dan berubah!
Jika saat ini anda seorang yang dianggap sangat buruk dan gagal oleh orang-orang, jangan pernah putus asa. Karena fakta telah mengajarkan kita bahwa orang-orang dengan latar belakang yang buruk telah mampu bertransformasi mejadi orang-orang penting dan sukses di dunia ini. Masih tidak percaya? Kalau saya ceritakan bukti dengan catatan pribadi saya, tentu anda tidak akan yakin. Kalau catatan perjalanan pak RT di tempat saya tinggal yang saya ajukan, pasti anda juga masih akan menolak. Karena itu saya akan suguhkan sedikit catatan tentang 2 orang pemimpin besar dunia. Semoga anda pernah mendengar nama Franklin Delano Rossevelt dan Winston Churcill. Jika anda ragu dengan track record mereka, carilah referensi di om google :) Jika anda sudah tahu tentang sejarah kesuksesan mereka, saya akan sedikit menambahkan tentang masa lalu mereka berdua yang "kata orang" dinilai sebagai sosok yang gagal.
FD Rossevelt, adalah tokoh yang sering disebut suka berhubungan dengan politisi jahat dan suka takhayul astronomi. Dia memiliki 2 istri muda, suka melewatkan hari bersama rokok setiap menit dan 10 botol martini setiap hari. Sedangkan sosok kedua, Winston Churchill, dia tercatat pernah 2 kali dipecat, kebiasaanya adalah bangun sore-sore. Dia juga pernah tercatat sebagai pengguna narkoba, dan senang menghabiskan wisky tiap sore. “Kata orang" masa lalu mereka begitu kelam dan tidak patut untuk diteladani, namun pada akhirnya mereka telah berhasil menjadi tokoh yang disanjung dan dipuja karena kecemerlangan mereka.
Dari catatan singkat tentang mereka, kita dapat mengambil hikmah dari beberapa sudut pandang. Yang pertama sebagai ”orang lain”, seperti judul diatas, kita tidak boleh mengadili sesorang hanya dari tampilan luar dan masa lalunya. Sudah seharusnya kita memberi ruang kepada mereka untuk menunjukkan ”kelas” mereka sebagai orang-orang hebat. Yang kedua sebagai diri kita sendiri, tak sepantasnya kita mengadili diri kita sendiri berdasarkan kondisi masa lalu dan masa kini. Kita hanya harus membiarkan diri kita terus berkembang dan berubah kearah yang lebih baik! Tidak peduli seburuk apapun orang mengatakan tentang kita, karena jauh di dalam diri kita tersimpan potensi yang luar biasa.
That’s why, saya ingin mengajak kepada semua temen-temen pecinta Djarum Black, jangan menghakimi orang lain dan karyanya hanya dari tampilan luarnya saja. Jika anda mengikuti Djarum Black Blog Competition ini, jangan menghakimi blog orang lain hanya dari desain blognya saja. Jika anda peserta autoblackthrough, jangan menilai mobil orang lain jelek secara fisik saja, pun jika anda seorang innovator yang meramaikan ajang Blackinnovationawards jangan mengatakan temuan orang lain itu masih jauh dibawah standar, karena setiap temuan adalah hasil dari perjalanan ide yang panjang dan sangat berarti bagi pemiliknya. Dari semua hal diatas, bukankah lebih baik kita mencari persahabatan? Dengan saling memuji atas prestasi teman-teman kita, serta saling mengingatkan dan melengkapi atas kekurangan-kekurangan kita.
Baca Selengkapnya...
13 December 2009
Masihkah Kita Bangga?
Dekade belakangan ini kita lebih sering disuguhi kenyataan yang memilukan tentang bangsa kita. Mulai dari kehidupan politik, konflik kepentingan daerah, perang etnis, bencana alam yang bergulir rutin, kasus korupsi yang nggak ada habis-habisnya, hingga merosotnya prestasi para atlet. Tubrukan demi tubrukan kisah tentang carut-marutnya negeri kita ini membuat beberapa teman yang peduli pada masa depan bangsa ini cemas. Beberapa mulai menuliskan refleksinya untuk di publish, beberapa juga mulai menggelar aksinya, dan sebagian juga menjadi orang-orang dibalik layar. Semua mereka lakukan hanya untuk satu tujuan: “Hidupnya kembali Negeri ini”.
Seperti biasa kami berkumpul untuk sekedar berbagi keresahan kami. Dimulai dengan mengenang kembali kebesaran negeri kita ini... Seorang teman mengenang tentang Bapak Proklamator kita, Soekarno, beliau adalah sosok pemimpin yang begitu disegani di dunia. Lantas teman lain menambahi tentang father of all, Soeharto, beliau juga tokoh bangsa yang diperhitungkan di dunia. Sayapun jadi teringat bahwa negeri kita ini sudah memiliki tradisi menjadi besar sejak nenek moyang kita. Ratusan tahun yang lalu kita pernah berjaya lewat Sriwijaya, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan lain. Bahkan jutaan tahun yang lalu peradaban negeri kita ini telah dimajukan oleh para pitecantropus erectus.
Brainstorming kami tentang masa lalu harus berakhir ketika seorang teman mengatakan, “Itu kan dulu...”, ketika itu suasana begitu hening, kami begitu terhenyak... Kemudian saya tersadar bahwa kami berbagi disini bukan untuk merenungi, tapi menggugah setiap orang dengan upaya maksimal yang dapat kami lakukan. Dan rasanya kami mulai harus berpikir keras mengobrak-abrik ratusan “file” kami untuk mencari fakta bahwa Negeri kita ini masih sangat pantas untuk kita banggakan!!!
Dan faktanya, Indonesia adalah Negara Maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Superior bukan? Seperempat panjang pantai di duina ini ada di negeri kita! Bahkan beberapa pantai kita diplot menjadi yang terindah di dunia...
Faktanya, Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia. Kita bisa melihat bahwa para pahlawan kita dapat dibanggakan, karena jasa merekalah fakta ini tersaji...
Dalam hal perdagangan dunia, faktanya Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua. Indonesia juga menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak. Selain itu, Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.
Dalam dunia olahraga, faktanya bangsa kita masih memiliki koleksi terbanyak lambang supremasi tertinggi bulutangkis putra, Thomas cup, sebanyak 13 Gelar.
Dalam hal kekayaan alam, faktanya negeri kita adalah pemilik Biodiversity Anggrek terbesar didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua. Kita juga dimanjakan dengan kehadiran Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera yang merupakan bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter. Ditambah lagi Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).
Dan faktanya lagi, baru-baru ini spesies ikan unik dan langka, ikan terkecil di dunia, juga ditemukan di negeri kita. Ia ditemukan di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang tubuhnya hanya 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.
Ah, malu rasanya kalau kami masih mempertanyakan “Masihkah kita bisa bangga pada bangsa ini”... Kamipun tertawa lepas dan lega pada akhirnya, karena menemukan fakta-fakta tadi.
Diawalai rasa iri saya pada “Djarum Black” dengan produknya Blackinnovationawards goes to campus, sembari bercanda kami melontarkan pendapat, lihatlah sebuah perusahaan rokok aja mampu bikin innovasi yang sanggup merangkul pemuda-pemuda kampus, masak kita yang ngaku mahasiswa, pemuda harapan bangsa ini nggak sanggup seperti mereka?
Dan kamipun bertekad suatu hari nanti, kami akan berkarya besar untuk membanggakan bangsa ini. Untuk merangkul pemuda, bersama ber-innovasi.
Baca Selengkapnya...
Seperti biasa kami berkumpul untuk sekedar berbagi keresahan kami. Dimulai dengan mengenang kembali kebesaran negeri kita ini... Seorang teman mengenang tentang Bapak Proklamator kita, Soekarno, beliau adalah sosok pemimpin yang begitu disegani di dunia. Lantas teman lain menambahi tentang father of all, Soeharto, beliau juga tokoh bangsa yang diperhitungkan di dunia. Sayapun jadi teringat bahwa negeri kita ini sudah memiliki tradisi menjadi besar sejak nenek moyang kita. Ratusan tahun yang lalu kita pernah berjaya lewat Sriwijaya, Majapahit, dan kerajaan-kerajaan lain. Bahkan jutaan tahun yang lalu peradaban negeri kita ini telah dimajukan oleh para pitecantropus erectus.
Brainstorming kami tentang masa lalu harus berakhir ketika seorang teman mengatakan, “Itu kan dulu...”, ketika itu suasana begitu hening, kami begitu terhenyak... Kemudian saya tersadar bahwa kami berbagi disini bukan untuk merenungi, tapi menggugah setiap orang dengan upaya maksimal yang dapat kami lakukan. Dan rasanya kami mulai harus berpikir keras mengobrak-abrik ratusan “file” kami untuk mencari fakta bahwa Negeri kita ini masih sangat pantas untuk kita banggakan!!!
Dan faktanya, Indonesia adalah Negara Maritim terbesar di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Superior bukan? Seperempat panjang pantai di duina ini ada di negeri kita! Bahkan beberapa pantai kita diplot menjadi yang terindah di dunia...
Faktanya, Republik Indonesia adalah Negara pertama yang lahir sesudah berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945. RI merupakan Negara ke 70 tertua di dunia. Kita bisa melihat bahwa para pahlawan kita dapat dibanggakan, karena jasa merekalah fakta ini tersaji...
Dalam hal perdagangan dunia, faktanya Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) juga produsen timah terbesar kedua. Indonesia juga menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak. Selain itu, Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.
Dalam dunia olahraga, faktanya bangsa kita masih memiliki koleksi terbanyak lambang supremasi tertinggi bulutangkis putra, Thomas cup, sebanyak 13 Gelar.
Dalam hal kekayaan alam, faktanya negeri kita adalah pemilik Biodiversity Anggrek terbesar didunia : 6 ribu jenis anggrek, mulai dari yang terbesar (Anggrek Macan atau Grammatophyllum Speciosum) sampai yang terkecil (Taeniophyllum, yang tidak berdaun), termasuk Anggrek Hitam yang langka dan hanya terdapat di Papua. Kita juga dimanjakan dengan kehadiran Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera yang merupakan bunga terbesar di dunia. Ketika bunganya mekar, diameternya mencapai 1 meter. Ditambah lagi Terumbu Karang (Coral Reef) Indonesia adalah yang terkaya (18% dari total dunia).
Dan faktanya lagi, baru-baru ini spesies ikan unik dan langka, ikan terkecil di dunia, juga ditemukan di negeri kita. Ia ditemukan di rawa-rawa berlumpur Sumatera. Panjang tubuhnya hanya 7,9 mm ketika dewasa atau kurang lebih sebesar nyamuk. Tubuh ikan ini transparan dan tidak mempunyai tulang kepala.
Ah, malu rasanya kalau kami masih mempertanyakan “Masihkah kita bisa bangga pada bangsa ini”... Kamipun tertawa lepas dan lega pada akhirnya, karena menemukan fakta-fakta tadi.
Diawalai rasa iri saya pada “Djarum Black” dengan produknya Blackinnovationawards goes to campus, sembari bercanda kami melontarkan pendapat, lihatlah sebuah perusahaan rokok aja mampu bikin innovasi yang sanggup merangkul pemuda-pemuda kampus, masak kita yang ngaku mahasiswa, pemuda harapan bangsa ini nggak sanggup seperti mereka?
Dan kamipun bertekad suatu hari nanti, kami akan berkarya besar untuk membanggakan bangsa ini. Untuk merangkul pemuda, bersama ber-innovasi.
Baca Selengkapnya...
Subscribe to:
Posts (Atom)







